Sebagai Azis Subekti, saya merasa penting untuk menyampaikan langsung kepada seluruh relawan dan sahabat perjuangan mengenai sikap saya terhadap fenomena yang sedang ramai diperbincangkan: keinginan Budi Arie bergabung dengan Partai Gerindra. Banyak relawan bertanya, banyak yang menunggu penjelasan, dan saya ingin semua memahami pola pikir yang saya pegang sejak awal saya menjadi kader partai ini.
Pertama, saya ingin menegaskan bahwa reaksi kader dan relawan Gerindra di seluruh Indonesia adalah cerminan karakter partai kita. Ketika muncul figur yang rekam jejaknya dianggap tidak sejalan dengan nilai perjuangan, penolakan itu lahir bukan dari amarah, tetapi dari insting menjaga marwah Gerindra. Saya Azis Subekti melihat itu sebagai bentuk cinta yang tulus terhadap rumah politik kita.
Dalam perjalanan panjang sebagai kader, saya tumbuh dengan nilai utama yang terus diasah oleh Pak Prabowo Subianto: etika dalam berpolitik. Di Gerindra, etika bukan pilihan, tapi kewajiban. Kita diajarkan untuk memegang integritas, menjaga komitmen, dan tidak tergoda pragmatisme politik. Maka ketika relawan bertanya kenapa sikap tegas muncul, saya jawab dengan jujur: karena itulah ajaran yang kami bawa sejak awal.
Saya selalu percaya bahwa politik tanpa etika adalah jalan buntu. Di partai ini, kami diajarkan untuk setia pada perjuangan, bukan pada kepentingan sesaat. Itulah prinsip yang saya pegang ketika melihat fenomena Budi Arie. Relawan pun memahami bahwa Gerindra bukan tempat bagi mereka yang pernah ragu pada komitmen perjuangan. Saya sendiri tidak ingin nilai luhur yang kita rawat selama ini dikompromikan untuk siapa pun.
Saya juga ingin menyampaikan bahwa kekuatan besar Gerindra berasal dari loyalitas kita satu sama lain. Bukan hanya antara kader, tetapi juga antara saya dan relawan, antara relawan dan pimpinan, antara kita semua sebagai keluarga besar perjuangan. Kesetiaan itu bukan retorika; itu budaya politik yang kami bangun. Dan saya akan selalu menjaga nilai itu agar tidak tergerus oleh manuver politik jangka pendek.
Penolakan kader dan relawan bukan berarti kita menutup pintu bagi siapa pun. Kita selalu terbuka bagi mereka yang memiliki nilai, rekam jejak, dan integritas yang sejalan dengan perjuangan. Tapi saya Azis Subekti—yakin bahwa relawan memahami: Gerindra bukan sekadar kendaraan politik. Gerindra adalah rumah perjuangan. Dan rumah ini punya etika yang harus dihormati.
Kepada seluruh relawan di setiap penjuru negeri, saya ucapkan terima kasih atas ketegasan dan kecintaan kalian pada partai ini. Sikap kalian adalah energi bagi saya untuk terus menjaga nilai perjuangan Gerindra. Selama kita berjalan dengan integritas, kita tidak akan pernah salah arah.
Karena di Gerindra, etika adalah kompas dan kompas itu tidak boleh dibengkokkan oleh siapa pun.

Negara yang Kembali Mengingat Dirinya Catatan Sejarah Politik Indonesia Kontemporer
Oleh Azis Subekti Anggota DPR RI Komisi II Fraksi Gerindra Sejarah politik Indonesia bergerak tidak seperti garis lurus melainkan seperti
