Ketika Linimasa Lebih Cepat dari Nalar



Oleh: Azis Subekti
Praktisi Big Data Analis, Anggota DPR RI, Fraksi Gerindra

Dalam sepekan terakhir, linimasa kembali memberi pelajaran yang pahit sekaligus jujur. Publik bergerak lebih cepat dari nalar. Kabar tentang listrik dan ATM yang diklaim akan mati selama tujuh hari beredar luas tanpa sumber, tanpa otoritas, dan tanpa pijakan teknis yang masuk akal. Namun kabar itu cukup untuk menggetarkan banyak orang. Grup keluarga menjadi riuh, antrean penarikan tunai mengular, dan rasa cemas menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Faktanya sederhana. Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada institusi negara yang membenarkan isu tersebut. Yang bekerja bukan kebenaran, melainkan ketakutan.

Pada waktu yang hampir bersamaan, linimasa lain dipenuhi video ringan tentang tarian di sebuah pesta pernikahan yang menembus puluhan juta tontonan. Tidak berbahaya, bahkan menghibur. Namun dua peristiwa yang tampak berlawanan ini sesungguhnya bertemu di satu titik yang sama. Algoritma memberi panggung utama pada emosi. Takut, marah, terharu, atau tertawa, semuanya diperlakukan setara selama mampu membuat orang berhenti berpikir dan terus menggulir layar.

Dalam sepekan itu, terlihat pola yang kian mengeras di ruang digital. Informasi dinilai bukan dari kebenarannya, melainkan dari keramaiannya. Pertanyaan benar atau tidak kalah cepat dari pertanyaan sudah viral atau belum. Di sinilah kerentanan publik bermula. Emosi menjadi pintu masuk utama, sementara literasi tertinggal di belakang. Ketika rasa takut dipantik, nalar menyusut. Ketika empati disentuh, kehati-hatian sering ditinggalkan.

Bahaya sesungguhnya tidak berhenti pada kepanikan sesaat. Hoaks yang dibiarkan beredar membentuk kebiasaan kolektif untuk bereaksi lebih dulu dan berpikir belakangan. Dalam jangka panjang, hal ini menggerogoti kepercayaan pada institusi, pada informasi, bahkan pada sesama warga. Masyarakat yang terus diguncang kabar palsu akan lelah membedakan mana ancaman nyata dan mana rekayasa. Pada titik itu, ketika bahaya sungguhan datang, peringatan justru bisa diabaikan karena dianggap sekadar isu viral lagi.

Era ini menuntut kebajikan baru yang jarang dibicarakan, yaitu kesabaran digital. Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum membagikan, bertanya sebelum percaya, dan mencari sumber sebelum panik. Negara memang memikul tanggung jawab besar untuk hadir dengan komunikasi publik yang cepat dan kredibel. Namun warga juga memiliki tanggung jawab etis yang tidak kalah penting, yaitu tidak menjadikan emosi pribadi sebagai kendaraan penyebaran kabar.

Dalam waktu yang singkat itu, linimasa sesungguhnya telah memberi cermin yang terang. Kita bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan ketenangan. Jika kecenderungan ini terus dibiarkan, bahaya terbesar bukan terletak pada satu hoaks atau satu video viral, melainkan pada lahirnya masyarakat yang mudah digerakkan oleh bisik-bisik, namun semakin sulit diajak berpikir bersama. Dari situlah pekerjaan besar kita dimulai, mengembalikan nalar ke tengah keramaian dan menjadikan literasi sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar jargon.

Related Posts