Jadi Pemateri di Magelang, Azis Subekti Ajak KPU Lompati Batas Lama Demokrasi

Magelang — Anggota DPR RI Azis Subekti menyerukan agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak lagi terjebak dalam rutinitas lama dalam menjalankan tugas pendidikan pemilih. Seruan itu ia sampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan yang digelar KPU RI di Kota Magelang, Sabtu (18/10/2025).

Dalam sambutannya, Azis menilai demokrasi Indonesia memerlukan keberanian dan kreativitas dari penyelenggara pemilu agar tidak hanya berjalan prosedural, tetapi juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“KPU harus berani ngorek, ngulik hal-hal yang detil, berdiskusi berdialog dengan teman-teman ad hoc. Apa yang ditemukan di daerah sehingga ada follow up untuk melakukan pendidikan pemilih,” ujar Azis.

Politikus asal Wonosobo itu menegaskan sudah saatnya KPU melangkah lebih jauh dari sekadar menggelar sosialisasi konvensional, dan mulai memanfaatkan pendekatan yang lebih partisipatif dan kontekstual sesuai dengan tantangan di setiap daerah.

Azis juga menyinggung ancaman baru terhadap demokrasi yang menurutnya sangat serius, yakni information warfare (perang informasi) dan cognitive warfare (perang kognitif).

“Indonesia ini menghadapi perang yang tidak kelihatan. Yang itu udah bertahun-tahun susah untuk ditigasi karena memang ya pengetahuan kita belum sampai di situ,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, perang informasi bekerja dengan cara membanjiri publik dengan kebohongan, sementara perang kognitif menyerang cara berpikir masyarakat.

“Otak manusia itu, dia tidak peduli dengan informasi ke-2 yang paling dia pedulikan adalah informasi yang pertama. Begitu informasi yang pertama itu digelontorkan, informasi yang ke-2 kan udah nggak peduli,” tegasnya.

Karena itu, Azis meminta KPU untuk menyesuaikan strategi komunikasi publiknya dan memasukkan isu literasi digital dalam setiap program pendidikan pemilih.

“KPU harus memasukkan ini pengetahuan-pengetahuan seperti ini dalam konteks pendidikan pemilih yang berkelanjutan karena kita tidak berada di dunia yang hampa,” ujarnya menekankan.

Menutup materinya, Azis menyampaikan ajakan reflektif kepada seluruh peserta untuk bekerja lebih keras dan berpikir jauh ke depan dalam memperjuangkan kualitas demokrasi.

“Pak Prabowo itu kan menunjukkan kepada kita semua bahwa beliau menjadi presiden selama 5 tahun seolah-olah beliau kerja 20 tahun,” kata Azis.
“Kita juga harus sama, kita ini supaya tidak tertinggal sebagai masyarakat. Kita ini harus berjuang dalam 5 tahun ini seperti kita berjuang 20 tahun,” lanjutnya.

Ia menegaskan, semangat perubahan itu bukan hanya untuk pemerintah pusat, tetapi juga harus menjadi ruh bagi para penyelenggara pemilu di tingkat daerah.

“Kita harus berjuang, harus ikut berjuang menentukan langkah masa depan yang baik,” tutupnya.

Related Posts