Rekam Jejak dan Filosofi Kepelatihan John Herdman, Cocok untuk Timnas Indonesia?

Oleh: Azis Subekti

 

Nama John Herdman mungkin belum lama bergaung di telinga publik sepak bola Indonesia. Ia bukan figur yang datang dengan kisah heroik sebagai mantan pemain besar, bukan pula pelatih yang hidup dari romantisme masa lalu. Herdman tumbuh dari jalur yang hening ruang belajar, lapangan latihan, dan proses panjang yang menuntut ketekunan. Reputasinya dibangun perlahan, dari kerja yang konsisten dan sering luput dari sorotan.

Justru di sanalah relevansinya bagi Indonesia yang sedang mencari bukan hanya kemenangan, tetapi arah. buatkan gambar untuk header web dan tambahkan wajah azis subekit juga sebagai penulisnya Karier kepelatihannya bermula jauh dari pusat perhatian. Pada 2006 2011, Herdman dipercaya menangani tim nasional wanita Selandia Baru. Ia membawa tim tersebut tampil di Piala Dunia Wanita 2007 dan 2011, serta Olimpiade Beijing 2008.

Prestasi itu lahir dari keterbatasan yang dikelola dengan disiplin dan keyakinan. Selandia Baru, yang kerap dipandang sebagai penggembira, mulai hadir dengan keberanian bersaing sebuah perubahan yang berangkat dari cara pandang, bukan sekadar hasil. Langkah berikutnya membesarkan namanya. Pada 2011, Herdman ditunjuk sebagai pelatih tim nasional wanita Kanada. Dalam periode 2011 2018, ia mempersembahkan medali perunggu Olimpiade London 2012 dan Rio de Janeiro 2016, serta emas Pan American Games 2011. Kanada menjelma kekuatan yang diperhitungkan.

Ia menunjukkan bahwa kultur yang dirawat dengan serius mampu mengangkat level sebuah bangsa sepak bola, bahkan ketika tradisi juara belum mapan. Keputusan paling berisiko datang pada 2018, ketika Herdman beralih menangani tim nasional pria Kanada. Dalam waktu relatif singkat, ia memimpin Kanada meraih tiket ke Piala Dunia FIFA 2022 Qatar, untuk pertama kalinya sejak 1986. Pencapaian ini historis dan menempatkannya sebagai pelatih yang membawa tim nasional wanita dan pria dari negara yang sama ke Piala Dunia sebuah capaian langka. Kanada yang lama berada di pinggiran tiba tiba tampil dengan kepercayaan diri baru di panggung dunia.

Selepas itu, Herdman sempat melatih Toronto FC (2023 2024) di Major League Soccer. Meski pengalaman di level klub menghadirkan dinamika dan tekanan yang berbeda, fase ini memperkaya perspektifnya tentang manajemen pemain profesional dan tuntutan industri sepak bola modern. Identitasnya tetap sama: pembangun yang menekankan fondasi sebelum hasil. Filosofi Herdman konsisten dan membumi. Ia memulai dari pertanyaan “mengapa”, bukan langsung pada “bagaimana”. Disiplin diperlakukan sebagai kesepakatan moral; taktik sebagai alat yang lentur mengikuti konteks.

Tim timnya dapat berubah bentuk sesuai kebutuhan pertandingan, tetapi tidak kehilangan jati diri. Tanggung jawab kolektif menjadi pusat, bukan ketergantungan pada satu sosok. Di sinilah Indonesia terasa dekat. Negeri dengan harapan yang selalu tinggi, linimasa media sosial yang riuh kritik dan pujian datang silih berganti. Namun di balik kebisingan itu, ada loyalitas yang nyaris tak pernah surut. Stadion tetap penuh, dukungan terus mengalir, bahkan ketika hasil tidak selalu memihak. Indonesia tidak kekurangan cinta pada sepak bola; yang sering dicari adalah sistem dan kepemimpinan yang mampu mengolah cinta itu menjadi kekuatan yang terarah.

Herdman tidak menjual janji besar. Ia menawarkan kerja yang terukur. Ia memahami bahwa tim nasional adalah sebuah ekosistem: pembinaan usia muda, kompetisi domestik, federasi, staf pelatih, dan publik yang mau belajar bersabar. Keberhasilan yang ia raih di Selandia Baru dan Kanada hadir ketika semua unsur itu bergerak seirama, diberi ruang untuk tumbuh, dan dijaga konsistensinya.

Optimisme terhadap John Herdman berdiri pada rekam jejak, bukan pada klaim. Jika Indonesia mampu membangun modalitas kepelatihan yang selaras memberi waktu pada proses, menahan godaan penghakiman instan, dan memelihara kesabaran kolektif maka kemenangan akan menemukan jalannya sendiri. Bukan sebagai hasil yang dipaksakan, melainkan sebagai buah dari kerja bersama yang matang, bermartabat, dan dipercaya. Buatkan gambar untuk header web berdasar narasi diatas dan tambahkan azis subekti juga di foto sebagai penulisnya

Related Posts