Oleh: Azis Subekti
Kematian tidak selalu datang sebagai peristiwa besar yang mengguncang. Ia lebih sering hadir seperti bisikan yang nyaris tak terdengar—menyusup ke dalam cara hidup, ke dalam pilihan-pilihan kecil yang tampak sepele, namun diam-diam membentuk arah batin seseorang. Dalam tradisi kenabian, kematian justru kerap diajarkan bukan lewat ancaman, melainkan lewat keteladanan yang tenang.
Suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ terbangun dari tidurnya. Tikar kasar yang menjadi alas beliau meninggalkan bekas di tubuhnya. Para sahabat melihatnya, terdiam, lalu tergerak. Ada empati, ada kegelisahan, ada dorongan tulus untuk menawarkan kenyamanan yang lebih layak bagi seorang utusan Tuhan. Tetapi Nabi ﷺ tidak menanggapi dengan keluhan, apalagi dengan penghakiman terhadap dunia. Jawabannya sederhana, hampir datar, namun menggeser cara pandang: dunia bukan tempat menetap, ia hanya ruang singgah.
Di titik inilah kematian mulai berbicara tanpa menyebut namanya.
Tikar kasar itu bukan simbol kemiskinan, melainkan penanda jarak. Jarak antara manusia dan ilusi bahwa hidup harus selalu dipenuhi dengan kelapangan materi. Jarak antara kekuasaan dan keterikatan. Nabi ﷺ sedang menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki dunia di tangannya, tanpa harus menaruhnya di dalam hati. Dan pelajaran itu disampaikan tanpa khotbah, tanpa nada menggurui, tanpa drama. Cukup dengan cara hidup.
Kematian, dalam pengertian ini, bukanlah ancaman yang menakutkan, melainkan kesadaran yang menenangkan. Ia mengajarkan proporsi. Bahwa hidup yang baik bukan hidup yang paling nyaman, melainkan hidup yang paling tahu kapan harus berhenti mengejar. Dunia, seperti tempat berteduh seorang musafir, akan selalu ditinggalkan. Pertanyaannya bukan seberapa lama kita singgah, tetapi apa yang kita persiapkan setelahnya.
Kesadaran itulah yang kelak dirumuskan Nabi ﷺ ketika para sahabat bertanya tentang kecerdasan. Orang paling cerdas, kata beliau, bukan yang paling cemerlang pikirannya, melainkan yang paling sering mengingat kematian dan paling sungguh-sungguh menyiapkan diri menghadapinya. Kecerdasan, di sini, bukan soal akumulasi pengetahuan, tetapi kejernihan orientasi. Mengetahui arah pulang, lalu menata langkah dengan sadar.
Mengingat kematian tidak menjadikan seseorang suram. Justru sebaliknya. Ia membebaskan. Orang yang berdamai dengan kematian tidak mudah tamak, tidak rakus berkuasa, dan tidak panik kehilangan. Ia tahu mana yang sekadar titipan, mana yang harus diperjuangkan, dan mana yang harus dilepaskan dengan lapang.
Barangkali itulah mengapa Nabi ﷺ tidak mengganti tikar itu. Bukan karena menolak kenyamanan, melainkan karena sedang membangun kesadaran. Bahwa hidup yang terlalu sibuk menghindari ketidaknyamanan sering kali lupa mempersiapkan kepulangan.
Kematian, pada akhirnya, adalah nasihat paling jujur. Ia tidak bersuara, tetapi selalu hadir. Ia tidak memaksa, tetapi tak pernah ingkar. Dan bagi mereka yang mau memperhatikan, diamnya kematian justru menjadi pengingat paling tajam: bahwa hidup ini bukan tentang seberapa empuk kita beristirahat, melainkan seberapa siap kita bangun untuk perjalanan yang lebih panjang.

Ketika Negara Diminta Berhemat
Ada satu pelajaran tua yang selalu berulang dalam sejarah: perang tidak pernah benar benar jauh. Ia mungkin meletus ribuan kilometer
