KESUKSESAN MENEMPUH JALAN TERJAL DAN MENDAKI

Tentang mimpi yang tertunda, pergiliran kehidupan, keteguhan dalam kekalahan, dan pencarian makna pengabdian.

Oleh: Azis Subekti

Ada masa ketika saya menganggap kehidupan sebagai perjalanan untuk mencapai sesuatu. Sebuah cita-cita, pendidikan yang lebih tinggi, kedudukan yang lebih baik, atau keadaan yang memungkinkan saya memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang yang saya cintai. Seperti kebanyakan anak muda, saya pernah membayangkan masa depan sebagai sebuah puncak yang harus dicapai. Semakin tinggi tempat yang berhasil diraih, semakin dekat rasanya seseorang dengan keberhasilan.

Namun, setelah melewati perjalanan yang tidak selalu mudah, pandangan itu perlahan berubah.
Saya menemukan bahwa kehidupan tidak berjalan dalam satu garis lurus. Ada saat ketika kita telah mempersiapkan segalanya, tetapi kesempatan tidak datang. Ada pula keadaan ketika sebuah pekerjaan sederhana, perjumpaan yang tidak direncanakan, bahkan kegagalan yang semula terasa menyakitkan, justru membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Kita sering terlalu sibuk menanyakan ke mana kehidupan akan membawa kita, sampai lupa memperhatikan manusia seperti apa yang sedang dibentuk oleh perjalanan itu.

Saya tidak menuliskan pengalaman ini karena merasa telah mencapai keberhasilan yang luar biasa. Masih terlalu banyak kekurangan yang saya sadari, keputusan yang seandainya dapat diulang mungkin akan saya tempuh dengan cara berbeda, serta tanggung jawab yang belum sepenuhnya mampu saya tunaikan. Saya pun tidak ingin setiap kesulitan masa lalu dipandang sebagai kisah kepahlawanan. Sebab dalam banyak keadaan, saya hanya melakukan apa yang dapat dilakukan oleh seseorang yang tidak mempunyai banyak pilihan. Tetapi barangkali justru di sanalah kehidupan menyimpan pelajarannya. Tidak semua hal yang berharga lahir dari keputusan besar. Sebagian tumbuh dari keberanian menjalani hari yang sulit, dari kesediaan menyelesaikan pekerjaan kecil dengan sungguh-sungguh, dan dari kemampuan menjaga harapan ketika keadaan belum memberikan alasan yang cukup untuk berharap. Sejak muda saya sering menghibur diri dengan sebuah ungkapan: “Mendung yang bergelanyut akan segera pergi dan datang hujan pertanda keberkahan, malam yang mencekam akan terus berjalan menyambut pagi yang cerah. Dunia selalu dipergilirkan.” Dahulu kalimat itu saya gunakan untuk menguatkan hati ketika mengalami kesulitan. Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan makna yang lebih luas. Pergiliran kehidupan ternyata bukan hanya tentang kesedihan yang berganti kebahagiaan, atau kegagalan yang akhirnya menemukan keberhasilan. Ia juga tentang bagaimana manusia memperlakukan dirinya ketika keadaan berubah. Ketika berada di bawah, kita belajar bersabar. Ketika memperoleh kesempatan dan kedudukan, kita harus belajar menjaga diri agar tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain. Saya semakin menyadari bahwa ujian kedua itu tidak selalu lebih mudah daripada ujian pertama.

Saya berasal dari Wonosobo, sebuah daerah pegunungan di Jawa Tengah. Di sanalah sebagian besar masa kecil dan remaja saya berlangsung. Udara dingin, kehidupan masyarakat yang bersahaja, sekolah, persahabatan, serta pergaulan organisasi menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk cara saya memandang dunia. Saya bersekolah di SD Negeri Balekambang, kemudian SMP Negeri Selomerto, dan melanjutkan pendidikan ke SMA Muhammadiyah Wonosobo.
Sejak sekolah saya memiliki ketertarikan besar pada ilmu pengetahuan, terutama matematika dan fisika. Ada kegembiraan tersendiri ketika dapat memahami sebuah persoalan yang pada awalnya terasa sulit. Saya menyukai cara ilmu pengetahuan mempertemukan rasa ingin tahu dengan ketekunan berpikir. Meskipun jujur saya ungkapkan, nilai akademik saya di kedua pelajaran tersebut biasa saja.

Di luar pelajaran, saya juga aktif dalam kegiatan organisasi. Dari OSIS, Pramuka dan Ikatan Remaja Muhammadiyah, saya mulai mengenal tanggung jawab, kerja sama, serta keberanian berbicara dan mengambil keputusan.

Pada 1993, saya memperoleh penghargaan sebagai unggulan siswa teladan SLTA tingkat Provinsi Jawa Tengah bersama siswa SMA Taruna Nusantara Magelang dan siswa SMA N 2 Rembang. Hal ini tak lepas dari bimbingan dan motivasi dari para guru terutama Pak Bambang Wiryanto, Pak Haris Suharto, Pak Sugeng Pribadi, Pak Ngatmin Surobudin, Ibu Herawati dan pengajar lainnya. Pengakuan tersebut tentu membesarkan hati seorang pelajar dari daerah seperti Wonosobo.
Dalam majalah sekolah KHARISMA edisi Mei 1994, saya dipublikasikan sebagai siswa yang diterima tanpa tes (PMDK) di Jurusan Fisika IKIP Semarang. Di sana juga tertulis cita-cita saya menjadi guru besar. Saya masih tersenyum ketika mengingat cita-cita itu. Seorang remaja dari Wonosobo membayangkan dirinya suatu hari akan menjadi guru besar. Barangkali terlalu tinggi untuk ukuran keadaan yang saya hadapi saat itu. Namun bukankah masa muda memang menyediakan ruang yang luas untuk bermimpi?

Sayangnya, kehidupan tidak selalu menyediakan jalan yang sepadan dengan besarnya cita-cita.
Setelah lulus SMA, saya tidak memiliki kesempatan untuk langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi seperti yang saya harapkan. Itulah salah satu perjumpaan awal saya dengan kenyataan bahwa kemampuan dan kesempatan merupakan dua hal yang berbeda.
Seorang anak boleh memiliki prestasi akademik yang baik, tetapi keterbatasan ekonomi keluarga tetap dapat menghalangi langkahnya. Sebuah penghargaan tidak serta-merta dapat membayar biaya pendidikan. Cita-cita yang tertulis dalam majalah sekolah pun tidak otomatis menemukan jalan menuju kenyataan.

Saya tidak ingin menggambarkan keadaan tersebut secara berlebihan. Banyak anak muda lain menghadapi persoalan yang jauh lebih berat. Sebagian bahkan harus mengubur cita-citanya sebelum sempat memperoleh kesempatan membuktikan kemampuan. Tetapi bagi saya yang ketika itu baru meninggalkan bangku sekolah, menerima kenyataan tersebut bukan perkara sederhana.
Ada keinginan besar untuk terus belajar, tetapi tidak tersedia jalan untuk mewujudkannya.
Barangkali sejak itulah saya mulai memahami, meskipun belum mampu merumuskannya dengan baik, bahwa keberhasilan seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh kemauan pribadinya.
Ada keadaan sosial yang turut menentukan. Ada struktur kesempatan yang tidak selalu adil. Ada orang-orang yang memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah memperoleh ruang untuk mengembangkannya. Kesadaran tersebut baru menemukan maknanya secara lebih utuh bertahun-tahun kemudian, ketika saya mulai terlibat dalam urusan kebijakan publik.

Awal Juli 1994, saya memperoleh pekerjaan sebagai karyawan di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan. Bagi seorang anak muda yang baru meninggalkan Wonosobo, kehidupan Jakarta memperkenalkan dunia yang sama sekali berbeda. Gedung-gedung tinggi, perusahaan-perusahaan besar, kesibukan jalan raya, serta ritme pekerjaan yang cepat membuat saya harus segera menyesuaikan diri.

Saya tidak datang dengan gelar sarjana atau pengalaman profesional yang panjang. Modal utama saya hanyalah pengetahuan yang diperoleh selama sekolah, kemauan belajar, dan kesediaan mengerjakan pekerjaan sebaik mungkin. Belum genap sebulan bekerja, terjadi sebuah peristiwa yang mengubah arah kehidupan saya. Saya menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan bagian dari tugas yang diberikan kepada saya. Pekerjaan itu menarik perhatian manajer saya, yang kemudian menanyakan latar belakang pendidikan saya. Dari percakapan tersebut, manajer dan pemilik perusahaan mengetahui bahwa saya pernah menjadi siswa teladan Provinsi Jawa Tengah dan memiliki sejumlah prestasi selama bersekolah. Tidak lama kemudian, perusahaan memberi saya kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dengan beasiswa penuh sambil tetap bekerja. Tentu ini karena besarnya harapan, dorongan dan doa Ibunda saya, Jariah-semoga Allah Subhanahuwataa’la melapangkan tempatnya di alam barzah dan memuliakannya.

Saya sering merenungkan peristiwa itu. Kesempatan yang semula terasa tertutup ternyata datang melalui sebuah pekerjaan yang bahkan bukan kewajiban saya. Tentu saya tidak menganggap pengalaman itu sebagai rumus bahwa setiap orang yang bekerja keras pasti memperoleh keberuntungan serupa. Kehidupan tidak sesederhana itu. Banyak manusia bekerja jauh lebih keras, tetapi tidak memperoleh kesempatan yang sama. Justru karena itulah, saya merasa memiliki utang moral terhadap kesempatan tersebut. Saya tidak mungkin melanjutkan pendidikan tanpa dukungan orang-orang yang bersedia melihat kemampuan seorang karyawan baru dan memberinya kepercayaan. Dari sana saya memperoleh pelajaran yang terus melekat hingga sekarang: jangan hanya bertanya apa yang dapat kita peroleh dari sebuah pekerjaan. Sesekali tanyakan pula nilai apa yang dapat kita berikan melalui pekerjaan tersebut. Tetapi ada pelajaran kedua yang menurut saya jauh lebih penting. Di balik keberhasilan seseorang, hampir selalu ada kebaikan orang lain yang ikut membukakan jalan. Kesadaran ini menghindarkan saya dari keyakinan bahwa seluruh pencapaian dalam hidup semata-mata merupakan hasil kemampuan pribadi. Kita mungkin bekerja keras. Tetapi selalu ada orang yang memberi kesempatan, mengajarkan sesuatu, membantu ketika mengalami kesulitan, atau memberikan kepercayaan pada saat kita sendiri belum sepenuhnya yakin terhadap kemampuan kita. Saya ingin mengingat orang-orang semacam itu bukan hanya dengan ucapan terima kasih, melainkan dengan berusaha membuka kesempatan serupa bagi orang lain ketika keadaan memungkinkan.

Saya akhirnya memasuki Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Cita-cita awal mempelajari fisika harus berbelok menuju teknik mesin. Tetapi saya tidak memandang perubahan tersebut sebagai kehilangan seluruh arah kehidupan. Saya justru menemukan dunia pengetahuan yang lebih dekat dengan penerapan praktis. Pendidikan teknik mengajarkan pentingnya memahami hubungan antarbagian dalam sebuah sistem, menemukan penyebab kerusakan, serta mencari cara agar sesuatu bekerja lebih baik. Belakangan, cara berpikir itu banyak memengaruhi pandangan saya terhadap organisasi, birokrasi, dan pemerintahan.

Di kampus saya kembali aktif berorganisasi. Ketika masih berada pada semester empat, saya terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik melalui pemilihan langsung mahasiswa untuk periode 1996–1997. Itu merupakan masa yang menarik sekaligus penuh ketidakpastian dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan Orde Baru masih berdiri kuat, tetapi kegelisahan mengenai demokrasi, kebebasan politik, dan ketidakadilan sosial semakin banyak diperbincangkan di lingkungan mahasiswa.

Saya mulai bergaul dengan aktivis dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta. Dalam perjalanan itu, saya memperoleh kesempatan bertemu sejumlah tokoh yang dikenal kritis terhadap kekuasaan, di antaranya Sri Bintang Pamungkas, Amien Rais, Dawam Rahardjo, Alhilal Hamdi, Affan Gaffar, Faisal Basri, Syahganda, Jumhur Hidayat, Munir (ketiga tokoh terakhir Abdullah Rasyid yang membawa saya berjumpa) dan banyak aktifis lainnya. Perjumpaan tersebut membuka ruang berpikir yang tidak saya temukan hanya melalui pelajaran teknik di kampus.

Saya mulai bertanya tentang hubungan antara kekuasaan dan kehidupan masyarakat. Mengapa kebijakan negara dapat menciptakan kemajuan bagi sebagian orang, tetapi pada saat yang sama membuat kelompok lain tertinggal? Bagaimana sebuah pemerintahan seharusnya dijalankan? Dan mengapa lembaga yang dibentuk untuk melayani masyarakat terkadang justru terasa jauh dari kehidupan mereka? Pertanyaan semacam itu membawa saya semakin dekat dengan aktivitas gerakan menjelang Reformasi 1998.

Ada semangat perubahan yang begitu kuat di kalangan mahasiswa. Namun jika saya mengenang masa tersebut sekarang, saya tidak ingin hanya mengingat keberanian dan idealisme.
Saya juga melihat adanya keterbatasan pengetahuan, emosi masa muda, serta keyakinan yang terkadang terlalu sederhana dalam membaca persoalan bangsa. Ketika muda, mudah bagi seseorang untuk membayangkan bahwa keadaan akan berubah menjadi jauh lebih baik setelah sebuah kekuasaan berakhir. Tetapi perjalanan Indonesia setelah Reformasi mengajarkan bahwa perubahan politik tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan kelembagaan, ekonomi, dan kebudayaan yang telah terbentuk selama puluhan tahun. Saya pun belajar bahwa memperbaiki keadaan jauh lebih rumit daripada menyatakan bahwa keadaan harus diperbaiki.

Aktivitas gerakan dan politik pada 1998–2001 membuat perjalanan kuliah saya terputus. Sesudahnya, pada 2001–2003, saya bekerja berpindah-pindah ke berbagai negara. Kehidupan kemudian terus bergerak: membangun keluarga, menjalankan usaha, dan terlibat dalam beragam aktivitas. Sementara itu, pendidikan sarjana saya belum selesai.

Saya kembali ke kampus dan akhirnya menamatkan pendidikan S1 Teknik Mesin pada 2006, dua belas tahun setelah pertama kali memperoleh kesempatan memasuki perguruan tinggi.
Saya tidak ingin menyebut keterlambatan itu sebagai prestasi. Ada konsekuensi dari pilihan-pilihan yang pernah saya ambil. Ada waktu yang hilang dan tidak dapat kembali. Jika kesempatan dapat diulang, mungkin beberapa keputusan akan saya pertimbangkan lebih matang. Tetapi saya juga tidak ingin menjadikan penyesalan sebagai alasan untuk tidak menyelesaikan sesuatu yang masih mungkin diselesaikan.

Tahun 2007, saya diterima sebagai mahasiswa Magister Teknik Industri Universitas Indonesia dan kemudian menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2010. Ada peristiwa yang sangat berkesan ketika saya mempertahankan tesis. Salah seorang penguji adalah Dr. Sri Bintang Pamungkas, sosok yang pernah saya temui dalam aktivitas gerakan menjelang Reformasi. Bertahun-tahun sebelumnya, kami dipertemukan oleh pergulatan mengenai kehidupan politik. Kini saya kembali berhadapan dengannya dalam ruang akademik. Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa kehidupan sering mempertemukan kembali manusia dengan masa lalunya melalui cara yang tidak terduga.
Saya memang belum menjadi guru besar sebagaimana cita-cita ketika SMA. Tetapi saya memperoleh pelajaran yang mungkin tidak kalah penting: pendidikan tidak selalu bergerak menurut jadwal yang kita inginkan, dan keinginan belajar seharusnya tidak berakhir ketika seseorang memperoleh gelar.

Perjalanan organisasi pada masa Reformasi kemudian membawa saya semakin jauh memasuki kehidupan politik. Saya pernah mendapat kepercayaan sebagai Ketua DPP Barisan Muda Penegak Amanat Nasional. Pada Pemilu 1999, ketika Hatta Rajasa memimpin pelaksanaan pemenangan pemilu DPP PAN, saya dipercaya menjadi kepala sekretariat. Pekerjaan itu mempertemukan saya dengan banyak pengalaman baru. Saya kemudian memperoleh sejumlah tanggung jawab organisasi lainnya, termasuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP PAN (2010-2015), Ketua DPP PAN (2015-2017). Dalam perjalanan itu, saya banyak belajar dari para senior, seperti Hatta Rajasa, Zulkifli Hasan, dan Azwar Abubakar. Ketika Azwar Abubakar dipercaya memimpin Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, saya mendapat kesempatan menjadi Staf Khusus Menteri pada periode 2012–2014.

Di lingkungan pemerintahan, saya menemukan bahwa gagasan yang baik belum tentu menghasilkan kebijakan yang baik, dan kebijakan yang baik belum tentu menghasilkan pelaksanaan yang baik. Ada jarak antara keputusan dan kenyataan. Ada struktur birokrasi, keterbatasan kemampuan, kepentingan organisasi, bahkan kebiasaan administratif yang dapat mengubah tujuan awal sebuah kebijakan. Dari sini saya semakin memahami bahwa negara bukanlah sebuah mesin yang otomatis bekerja hanya karena pemimpinnya memiliki niat baik. Negara merupakan himpunan lembaga yang diisi manusia, diatur oleh hukum, dan digerakkan melalui keputusan-keputusan yang saling berhubungan. Karena itu, perubahan membutuhkan lebih dari sekadar pergantian pejabat. Ia memerlukan pembenahan sistem, penegakan aturan, pengembangan kemampuan manusia, serta kepemimpinan yang tidak berhenti pada perintah. Pengalaman tersebut secara perlahan membentuk keyakinan saya bahwa politik yang baik bukanlah politik yang hanya mampu memenangkan persaingan, melainkan politik yang sanggup memperbaiki cara negara bekerja.

Di tengah kesibukan organisasi, pekerjaan, dan politik, kehidupan mempertemukan saya dengan tanggung jawab yang jauh lebih personal. Pada Mei 2003, saya menikah dengan Ina Sujianti.
Kemudian lahirlah tiga anak kami: Sausan Shafia Inabek pada 29 Februari 2004-saat ini Mahasiswa FISIP UNPAD; Tugas Akhir, Diwan Basya Muhara pada 18 Mei 2007-saat ini penerima beasiswa dari Kerajaan Arab Saudi di Universitas King Abdulaziz, Jeddah, Fakultas Science dan Alisyar Azis Muhara pada 27 Februari 2009 saat ini siswa kelas XII sebuah Pesantren di Depok.
Keluarga mengajarkan sesuatu yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pendidikan formal atau pengalaman organisasi. Di luar rumah, seseorang mungkin dinilai melalui jabatan, kemampuan berbicara, atau keputusan yang diambilnya. Tetapi di dalam keluarga, ukuran yang paling berarti sering kali jauh lebih sederhana: kesediaan mendengarkan, kehadiran ketika dibutuhkan, kesabaran memahami perasaan orang lain, serta kemampuan menjaga kepercayaan.

Saya tidak ingin menggambarkan diri sebagai suami atau ayah yang selalu berhasil memenuhi seluruh tanggung jawab itu. Ada waktu-waktu ketika pekerjaan dan aktivitas politik menyita perhatian. Ada kesempatan bersama keluarga yang mungkin telah terlewat dan tidak mungkin diulang. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa keberhasilan di ruang publik tidak dapat sepenuhnya menggantikan kekurangan kehadiran dalam kehidupan pribadi.
Keluarga mengingatkan saya untuk tidak terlalu terpikat oleh pengakuan orang lain.
Anak-anak juga membuat saya berpikir lebih jauh tentang makna warisan.

Saya tidak ingin mereka menganggap bahwa keberhasilan adalah memperoleh kedudukan seperti yang pernah dicapai ayahnya. Saya justru berharap mereka dapat menemukan jalan hidupnya sendiri, memiliki kemampuan untuk berdiri secara mandiri, serta mengembangkan kepekaan terhadap kehidupan orang lain. Jika ada sesuatu yang ingin saya wariskan, itu bukan terkait nama, kedudukan, atau pencapaian materi. Saya ingin mereka memahami bahwa kehormatan seseorang lebih banyak ditentukan oleh karakter yang dijaganya daripada pujian yang diterimanya.

Perjalanan politik saya sendiri cukup panjang dan tidak selalu menghasilkan kemenangan.
Saya pernah mengikuti beberapa proses pencalonan dalam pemilihan umum legislatif termasuk mencalonkan Bupati Wonosobo pada saat usia saya 34 tahun, tetapi belum memperoleh kepercayaan yang cukup untuk menjadi wakil rakyat ataupun Bupati. Kekalahan dalam politik meninggalkan rasa yang berbeda. Di dalamnya terdapat harapan pribadi, pekerjaan panjang banyak orang, biaya, waktu, tenaga, dan berbagai pengorbanan yang tidak semuanya terlihat oleh masyarakat. Tetapi dari kekalahan saya memperoleh salah satu pelajaran yang paling penting: manusia tidak selalu dapat memaksakan hasil, betapapun kuat keinginannya. Dahulu saya sering menyebut kekalahan sebagai keberhasilan yang tertunda. Sekarang saya merasa ungkapan itu perlu dipahami dengan lebih hati-hati.

Tidak semua kekalahan menjanjikan kemenangan pada masa depan. Sebagian kegagalan justru mengharuskan kita menerima bahwa ada sesuatu yang perlu diubah, ada kemampuan yang perlu diperbaiki, atau ada jalan yang harus ditinggalkan. Kegagalan tidak dengan sendirinya membuat manusia lebih bijaksana. Ia baru menjadi pelajaran apabila kita bersedia mengakui kekurangan, memperbaiki diri, dan tidak mencari kesalahan hanya pada keadaan di luar diri kita.

Ketika mencalonkan DPR RI dari daerah pemilihan Cirebon dan Indramayu, saya memperoleh pengalaman bertemu banyak tokoh masyarakat, pemimpin umat, dan orang-orang sederhana yang menjalani kehidupan dengan penuh ketekunan. Sebagian dari mereka tidak mempunyai kedudukan politik, tetapi dihormati masyarakat karena keteladanan yang dibangun selama bertahun-tahun. Saya belajar bahwa kepercayaan tidak semata-mata lahir dari kemampuan menjelaskan gagasan. Kepercayaan tumbuh ketika orang lain melihat adanya hubungan yang konsisten antara perkataan dan perbuatan. Dalam perjalanan itu pula saya semakin menyadari bahwa politik sebenarnya memberikan ruang pembelajaran yang luas, asalkan seseorang tidak hanya sibuk mendengarkan dirinya sendiri. Rakyat yang kita temui bukan semata-mata pemilih. Mereka adalah manusia yang mempunyai sejarah, pandangan, kebutuhan, dan pengetahuan mengenai kehidupannya sendiri. Mendengarkan mereka sering kali jauh lebih berguna daripada datang membawa jawaban yang telah kita persiapkan sebelumnya.

Pada 2017, saya meninggalkan kepengurusan Partai Amanat Nasional, organisasi politik yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan saya sejak masa awal Reformasi. Keputusan itu tidak berarti saya harus menghapus kebaikan orang-orang yang pernah berjalan bersama.
Saya tetap menghargai pengalaman, persahabatan, dan pengetahuan yang diperoleh selama berada di PAN. Saya percaya bahwa manusia dapat mengubah pilihan politik tanpa harus mengingkari seluruh masa lalunya. Kehidupan yang panjang hampir selalu mempertemukan kita dengan perubahan keadaan, pandangan, dan hubungan. Kedewasaan bukanlah kemampuan mempertahankan semua pilihan lama, melainkan kemampuan menjelaskan kepada diri sendiri mengapa sebuah pilihan perlu dipertahankan atau diubah.

Dalam perjalanan berikutnya, saya semakin menekuni bidang teknologi informasi, analisis data, serta sistem digital. Beruntung saya memiliki sahabat semasa kuliah, Suherlan yang mempertemukan saya dengan Dudy Rudianto-praktisi dan pakar dalam system dan bigdata. Latar belakang pendidikan teknik membuat saya merasa dekat dengan cara kerja teknologi. Bahkan memudahkan saya. Dunia digital juga memperkenalkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar perangkat lunak. Saya mulai melihat bagaimana penguasaan data dapat memengaruhi pengambilan keputusan, perilaku masyarakat, dan bahkan kualitas demokrasi. Perjalanan profesional di bidang tersebut tercatat pula dalam keterlibatan saya terkait isu publik tentang bigdata dan memimpin perusahaan teknologi dan pengolahan data.

Di tengah perjalanan itu, hubungan saya dengan lingkungan Partai Gerindra semakin berkembang.
Saya telah mengenal sejumlah kader dan tokohnya melalui berbagai aktivitas politik, termasuk pada masa dukungan terhadap pasangan Prabowo Subianto–Hatta Rajasa dalam Pemilihan Presiden 2014. Saat itu saya dikenal sebagai sespri atau aspri Hatta Rajasa. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut dalam berbagai pekerjaan, bigdata, perangkat lunak dan kepemiluan bersama sejumlah sahabat, di antaranya Danang Wicaksono Sulistyo, Endipat Wijaya, Setyoko, Haris Bobihoe, Habiburrahman, Rohmat Marzuki, A. Riza Patria, Sudaryono, Angga Raka Prabowo, Fadli Hartono dan beberapa pimpinan Gerindra seperti Ahmad Muzani, Prasetyo Hadi, Sugiono, Fadli Zon dan Budi Djiwandono.

Pada Pemilihan Presiden 2019, saya memperoleh mandat menjadi saksi rekapitulasi penghitungan suara nasional di KPU RI bagi pasangan Prabowo Subianto–Sandiaga Uno. Pengalaman itu kembali mempertemukan saya dengan ketegangan demokrasi yang dahulu pernah saya saksikan pada masa gerakan mahasiswa. Tetapi kini saya memandangnya dengan kesadaran berbeda.
Dalam demokrasi, keyakinan terhadap pilihan politik harus berjalan bersama penghormatan terhadap prosedur, bukti, hukum, dan hak pihak lain untuk memiliki pandangan yang berbeda.
Kompetisi merupakan bagian penting demokrasi, tetapi kemampuan menjaga kehidupan bersama setelah kompetisi berakhir tidak kalah penting.

Dalam perjalanan tersebut, saya menemukan pelajaran yang cukup mendalam dari kehidupan politik Prabowo Subianto. Saya tidak ingin menggambarkan beliau sebagai manusia tanpa kekurangan, sebagaimana saya tidak ingin seluruh perjalanan hidup saya sendiri ditulis dengan cara demikian. Setiap tokoh publik memiliki keputusan yang dapat dinilai, dikritik, dan diperdebatkan. Bahkan kepemimpinan yang kuat tetap memerlukan pengawasan, koreksi, serta keterbukaan terhadap kenyataan yang mungkin tidak menyenangkan. Tetapi di antara berbagai hal yang dapat dipelajari dari perjalanan Prabowo, ada satu yang memiliki arti khusus bagi saya: keteguhan menghadapi perjalanan panjang yang tidak selalu memberikan hasil sesuai harapan.
Prabowo pernah mengalami perubahan besar dalam karier militernya pada 1998. Setelah itu, ia memasuki dunia usaha dan politik. Ia mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar pada 2004, maju sebagai calon wakil presiden pada 2009, kemudian menjadi calon presiden pada 2014 dan 2019. Setelah melalui perjalanan tersebut, ia memenangkan Pemilihan Presiden 2024 dan dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.

Rangkaian peristiwa itu tentu tidak dapat dipahami hanya sebagai cerita tentang seseorang yang berkali-kali mencoba hingga akhirnya menang. Ada perubahan hubungan politik, strategi, situasi nasional, dan penilaian masyarakat yang ikut membentuk perjalanan tersebut. Namun bagi saya, pelajaran terbesarnya bukan terletak pada kemenangan akhirnya. Yang menarik adalah kemampuan untuk tetap bekerja dan mempertahankan tujuan politik dalam rentang waktu yang panjang, ketika hasil yang diharapkan belum juga datang. Saya pernah mengalami kekalahan dalam skala yang tentu jauh berbeda. Karena itulah saya dapat memahami, setidaknya pada tingkat pengalaman manusiawi, bahwa menjalani perjuangan panjang tanpa kepastian hasil membutuhkan ketahanan batin. Manusia yang mengalami kekalahan berulang dapat menjadi pahit terhadap kehidupan. Ia dapat menyalahkan semua orang, kehilangan kepercayaan, atau membiarkan kekecewaan menguasai cara berpikirnya. Tetapi ada jalan lain: mengolah pengalaman itu menjadi ketekunan, memperbaiki kemampuan, serta membangun kembali hubungan dan kepercayaan.

Saya melihat pelajaran tentang pentingnya keteguhan dalam perjalanan politik Prabowo. Namun saya juga belajar bahwa keteguhan tidak boleh berubah menjadi kekakuan. Seseorang perlu mempertahankan prinsip, tetapi harus cukup terbuka untuk menyesuaikan cara ketika keadaan berubah. Ia harus memiliki keberanian memperjuangkan keyakinan, tetapi juga kerendahan hati untuk mendengar orang lain.

Bagi saya, keteladanan kepemimpinan tidak berarti meniru seluruh keputusan seseorang.
Justru penghormatan yang dewasa terhadap seorang pemimpin menuntut kesediaan menjaga nilai yang diperjuangkan, bahkan ketika hal itu mengharuskan kita menyampaikan pandangan yang berbeda. Dari pemikiran Prabowo mengenai persoalan ketimpangan ekonomi, penguasaan sumber daya, kemandirian pangan, dan pembangunan ekonomi nasional, saya menemukan sejumlah gagasan yang semakin relevan dengan pengalaman dan perhatian saya sendiri. Saya memandang bahwa sebuah negara tidak cukup hanya mencatat pertumbuhan ekonomi. Negara juga harus bertanya siapa yang memperoleh manfaat dari pertumbuhan itu, bagaimana kekayaan produktif dikelola, dan apakah rakyat kecil memiliki kesempatan yang semakin luas untuk memperbaiki kehidupannya. Persoalan tersebut bukan sekadar perdebatan teori ekonomi.

Saya pernah merasakan bagaimana keterbatasan kesempatan dapat mengubah perjalanan seseorang. Karena itulah saya mudah memahami bahwa ketimpangan bukan hanya persoalan angka, melainkan persoalan kehidupan manusia. Dalam pandangan saya, salah satu nilai penting dari kepemimpinan politik adalah keberanian menghadapi masalah struktural yang sering kali sulit disentuh karena telah terlalu lama dianggap sebagai keadaan yang wajar. Tetapi keberanian juga memerlukan kehati-hatian.

Kebijakan korektif yang dimaksudkan menghadirkan keadilan harus disusun dengan pengetahuan yang cukup, dasar hukum yang kuat, serta pemahaman terhadap konsekuensi sosial dan ekonomi.
Kita tidak dapat memperbaiki ketimpangan hanya dengan kemarahan terhadap keadaan.
Perubahan membutuhkan desain yang matang dan kemampuan menjaga agar cita-cita besar tidak kehilangan maknanya ketika memasuki pelaksanaan.

Dari perjalanan Prabowo, saya juga merenungkan hubungan antara kemenangan politik dan beban tanggung jawab. Setelah bertahun-tahun berjuang memperoleh kepercayaan publik, keberhasilan memenangkan pemilihan presiden bukanlah akhir perjalanan. Justru sejak itulah tanggung jawab yang sesungguhnya menjadi jauh lebih besar.

Janji harus diuji melalui kebijakan. Gagasan harus bertemu kenyataan. Dan keberhasilan kepemimpinan pada akhirnya tidak cukup dinilai melalui kesetiaan para pendukung, tetapi melalui perubahan nyata yang dirasakan masyarakat. Saya memandang keteladanan seorang pemimpin dengan ukuran tersebut. Menghormati seorang pemimpin bukan berarti membebaskannya dari penilaian. Sebaliknya, semakin besar amanah yang dipikulnya, semakin penting kejujuran orang-orang di sekelilingnya untuk membantu menjaga arah.

Kesetiaan yang paling bermakna bukanlah selalu mengatakan bahwa segala sesuatu telah berjalan baik. Kesetiaan juga dapat berarti keberanian menyampaikan bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki, agar tujuan besar yang diperjuangkan tidak dikalahkan oleh kepentingan-kepentingan yang lebih sempit. Itulah bentuk keteladanan politik yang ingin saya pelajari dan jalankan.

Perjalanan menuju Pemilihan Umum 2024 kemudian membawa saya kembali kepada wilayah yang memiliki hubungan sangat dekat dengan akar kehidupan saya. Melalui Partai Gerindra, saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah VI, setelah mendapatkan perintah dari Mas Prasetyo Hadi melalui Mas Danang Wicaksono. Dapil Jawa Tengah VI meliputi Wonosobo, Temanggung, Kab/Kota Magelang, dan Purworejo. Ada perasaan yang tidak mudah dijelaskan ketika kembali memperjuangkan kepercayaan masyarakat dari wilayah tempat saya tumbuh.

Saya teringat masa sekolah, perjalanan meninggalkan Wonosobo menuju Jakarta, serta cita-cita yang dahulu belum dapat saya wujudkan. Tetapi nostalgia tidak boleh menjadi alasan untuk merasa lebih berhak memperoleh kepercayaan politik. Asal-usul mungkin menghadirkan kedekatan emosional. Namun menjadi wakil rakyat memerlukan kemampuan memperjuangkan kepentingan masyarakat yang beragam, termasuk mereka yang tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita dan bahkan tidak pernah memberikan suaranya kepada kita. Pada 2025, saya memperoleh amanah menjadi anggota DPR RI melalui mekanisme pergantian antarwaktu, menggantikan Prasetyo Hadi yang dipercaya Presiden Prabowo Subianto menjadi Menteri Sekretaris Negara.

Saya bersyukur memperoleh kesempatan tersebut. Tetapi saya tidak ingin menyederhanakan perjalanan panjang ini menjadi kisah seseorang yang akhirnya berhasil mencapai Senayan.
Jika demikian, seluruh pengalaman hidup saya hanya akan berakhir sebagai cerita tentang sebuah jabatan. Padahal saya justru merasa bahwa kesempatan menjadi anggota DPR RI membawa pertanyaan moral yang jauh lebih besar.

Dahulu saya berjuang untuk mendapatkan kesempatan bagi diri sendiri. Kini saya berada dalam posisi yang memungkinkan saya ikut memengaruhi keputusan yang berkaitan dengan kesempatan hidup banyak orang. Apakah saya cukup memahami kesulitan mereka? Apakah pengalaman pribadi telah membuat saya lebih peka, atau justru kedudukan akan perlahan menjauhkan saya dari kenyataan yang pernah saya kenal? Apakah pengetahuan yang saya miliki telah digunakan untuk menjelaskan persoalan masyarakat secara jujur, atau sekadar untuk memperkuat pendapat yang ingin saya pertahankan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlu terus saya hadirkan dalam diri. Saya menyadari bahwa tidak ada jaminan seseorang akan menjadi lebih bijaksana hanya karena bertambah usia, memiliki pengalaman panjang, atau memperoleh jabatan publik. Kebijaksanaan harus terus dipelajari, termasuk melalui kesediaan menerima kritik dan mengakui kekeliruan.

Dalam menjalankan tugas di Komisi II dan Badan Legislasi DPR RI, saya semakin banyak berhadapan dengan persoalan pemerintahan, birokrasi, pertanahan, kelembagaan, hubungan antara negara dan masyarakat serta berbagai isu strategis yang memerlukan payung hukum secara cepat. Terkini, pengesahan UU Pengaturan Reforma Agraria dan UU Satu Data Indonesia.
Perjuangan dalam pembentukan Undang-undang tersebut memperlihatkan bahwa keadilan sosial tidak dapat dibangun hanya melalui niat baik. Ia memerlukan hukum yang tepat, kelembagaan yang bekerja, data yang dapat dipercaya, anggaran yang digunakan secara produktif, serta aparatur yang memahami bahwa kewenangan merupakan tanggung jawab pelayanan.

Saya semakin menaruh perhatian pada reforma agraria, transformasi pemerintahan digital, kedaulatan data, serta pembangunan ekonomi dari bawah. Dalam pandangan saya, persoalan-persoalan tersebut memiliki benang merah yang sama: bagaimana negara memperluas kemampuan masyarakat untuk hidup lebih mandiri, produktif, dan bermartabat. Saya pernah menyampaikan bahwa arah kebijakan strategis negara harus dijaga agar tidak direduksi oleh kepentingan jangka pendek atau segelintir kelompok. Pandangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kepercayaan publik hanya dapat dipelihara apabila masyarakat melihat adanya hubungan nyata antara kebijakan dan kepentingan bersama.

Saya tidak menganggap diri telah menemukan jawaban untuk seluruh persoalan itu.
Justru semakin banyak terlibat dalam proses kebijakan, semakin terlihat betapa rumitnya persoalan yang harus diselesaikan. Tetapi saya percaya bahwa kerumitan bukan alasan untuk membiarkan keadaan terus berjalan tanpa koreksi. Keberanian dalam politik tidak selalu berbentuk keputusan besar yang mengundang perhatian. Kadang ia justru hadir dalam ketekunan memperbaiki aturan yang tidak adil, mengurai persoalan kelembagaan yang berlarut-larut, atau mempertahankan sebuah prinsip ketika pilihan yang lebih mudah sebenarnya tersedia.

Di tengah seluruh perjalanan tersebut, saya semakin merasakan kebutuhan untuk menulis dan terus belajar. Menulis bagi saya bukan semata-mata kegiatan menyampaikan pendapat.
Ia menjadi cara untuk memeriksa pikiran sendiri. Ketika sebuah gagasan masih berada dalam kepala, kita dapat dengan mudah merasa telah memahaminya. Tetapi ketika gagasan itu harus dituangkan dalam tulisan, kelemahan penalaran, kekurangan pengetahuan, dan hubungan sebab-akibat yang belum jelas mulai terlihat. Saya menyukai proses tersebut.

Dari ilmu teknik, saya belajar membaca sistem. Dari pengalaman organisasi, saya mengenal kerumitan hubungan manusia. Dari politik, saya memahami bahwa keputusan selalu berhadapan dengan kepentingan yang berbeda. Dari pengalaman birokrasi, saya belajar bahwa perubahan membutuhkan ketelitian dalam pelaksanaan. Sementara dari sejarah, filsafat, agama, ekonomi, dan kebudayaan, saya terus menemukan cara-cara baru untuk memahami persoalan yang sama.

Saya semakin percaya bahwa pengetahuan tidak seharusnya membuat seseorang merasa selalu memiliki jawaban. Pengetahuan justru perlu memperbesar kesadaran bahwa kenyataan sering jauh lebih luas daripada apa yang mampu ditangkap oleh pikiran kita. Karena itu, saya tidak ingin kehilangan kebiasaan bertanya. Mengapa suatu kebijakan gagal mencapai tujuannya? Mengapa sebuah bangsa dapat memiliki sumber daya melimpah tetapi sebagian masyarakatnya tetap hidup dalam keterbatasan? Mengapa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat manusia lebih bijaksana? Mengapa pendidikan yang semakin luas belum tentu melahirkan kemampuan berpikir yang lebih merdeka? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya merasa masih berada dalam perjalanan belajar yang panjang.

Dahulu saya bercita-cita menjadi guru besar. Hari ini, saya justru semakin ingin mempertahankan diri sebagai murid kehidupan. Saya tidak merasa perlu menguasai seluruh bidang pengetahuan. Tetapi saya ingin tetap memiliki keingintahuan untuk memahami hal-hal yang belum saya mengerti, serta kerendahan hati untuk belajar dari siapa pun. Terkadang pelajaran berharga datang dari seorang profesor, buku yang ditulis ratusan tahun lalu, atau perdebatan dalam ruang kebijakan.
Namun tidak jarang pelajaran yang sama berharganya datang dari petani, guru di desa, pekerja sederhana, atau seseorang yang dengan tenang menjalani tanggung jawabnya tanpa pernah merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa.

Ada sebuah perubahan yang perlahan terjadi dalam cara saya memandang kesuksesan.
Ketika masih muda, saya sering membayangkan bahwa keberhasilan berada di suatu tempat di depan. Ia harus dikejar dan diperjuangkan sampai tercapai. Tetapi semakin jauh berjalan, semakin saya menyadari bahwa setiap pencapaian segera mempertemukan manusia dengan tanggung jawab baru. Ketika memperoleh pekerjaan, kita harus membuktikan kemampuan. Ketika mendapat kesempatan belajar, kita harus bertanggung jawab terhadap pengetahuan. Ketika membangun keluarga, kita harus belajar menjaga hubungan dan kepercayaan. Ketika memasuki organisasi, kita harus memperhatikan kepentingan orang lain. Dan ketika memperoleh kedudukan publik, ukuran tanggung jawab itu menjadi semakin luas.

Tidak ada satu pun keadaan yang secara otomatis membuat seluruh persoalan kehidupan selesai.
Saya juga mulai memahami bahwa manusia tidak hanya diuji ketika gagal. Keberhasilan dapat menjadi ujian yang lebih halus karena sering datang bersama penghormatan, kenyamanan, dan kemampuan memengaruhi orang lain. Pada saat itulah seseorang mungkin mulai menganggap dirinya selalu benar, mengira bahwa segala pencapaian merupakan hasil kemampuan pribadi, atau perlahan kehilangan kesediaan mendengarkan orang yang tidak memiliki kedudukan. Saya tidak ingin sampai pada keadaan demikian.

Saya tahu bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menjaganya. Diperlukan lingkungan yang bersedia mengingatkan, keluarga yang menjaga kewarasan, sahabat yang tidak hanya memberikan pujian, dan terutama kesediaan diri sendiri untuk menerima bahwa kita dapat keliru.
Dalam keyakinan saya, manusia tidak memiliki alasan untuk berlaku sombong atas sesuatu yang pada akhirnya tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaannya. Ada kesehatan yang dapat berubah, kemampuan yang dapat berkurang, kesempatan yang dapat berakhir, dan kedudukan yang suatu hari harus ditinggalkan. Semua itu mengajarkan bahwa kehidupan sesungguhnya merupakan amanah yang terbatas oleh waktu. Di sinilah saya sampai pada sebuah pemahaman yang mungkin tidak sepenuhnya saya miliki ketika masih muda.

Saya tidak pernah benar-benar mengetahui sampai di mana perjalanan hidup ini akan membawa saya. Tetapi saya semakin memahami bahwa yang terpenting bukanlah seberapa tinggi tempat yang akhirnya dapat saya capai, melainkan seberapa banyak kebaikan yang dapat saya tinggalkan sepanjang perjalanan menuju ke sana. Kalimat itu bukan kesimpulan bahwa saya telah berhasil menjalankannya. Ia justru merupakan ukuran yang ingin terus saya gunakan untuk menilai diri sendiri. Sebab tidak ada gunanya mencapai tempat yang tinggi apabila sepanjang perjalanan kita kehilangan kemampuan merasakan kesulitan orang lain. Tidak banyak artinya memperoleh pengetahuan apabila pengetahuan itu hanya digunakan untuk membenarkan diri sendiri.
Dan kedudukan sebesar apa pun pada akhirnya akan kehilangan maknanya apabila tidak meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Saya semakin memahami bahwa seseorang tidak perlu menunggu menjadi kaya, terkenal, atau berkuasa untuk mulai memberikan kebaikan. Kesempatan membantu orang lain sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Mendengarkan seseorang yang sedang menghadapi kesulitan. Memberikan pengetahuan kepada mereka yang membutuhkannya. Membuka kesempatan kerja. Menjaga kepercayaan. Mengambil keputusan yang adil meskipun tidak menguntungkan diri sendiri.
Mungkin tindakan-tindakan kecil itu tidak pernah tercatat dalam riwayat hidup seseorang.
Tetapi justru melalui hal-hal semacam itulah kehidupan bersama menjadi lebih manusiawi.

Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada generasi muda yang sedang memulai perjalanannya.
Jangan terlalu cepat menganggap diri telah gagal hanya karena kehidupan belum berjalan seperti yang diharapkan. Saya pernah memiliki cita-cita menjadi guru besar, tetapi tidak dapat langsung melanjutkan pendidikan tinggi. Saya pernah memasuki perguruan tinggi dan membutuhkan waktu sangat panjang untuk menyelesaikannya. Saya pernah meninggalkan sebuah jalan dan harus memulai perjalanan lain. Saya juga pernah mengikuti pencalonan politik tanpa memperoleh hasil yang diharapkan. Sebagian keadaan terjadi karena keterbatasan yang tidak dapat saya kendalikan. Sebagian lainnya merupakan konsekuensi dari pilihan sendiri. Saya tidak ingin menghapus perbedaan di antara keduanya. Kita harus jujur terhadap kehidupan, termasuk ketika kegagalan terjadi karena kekurangan kita sendiri. Tetapi jangan membiarkan kegagalan berubah menjadi identitas yang terus-menerus membelenggu masa depan. Keadaan yang buruk tidak harus menjadi akhir dari seluruh kemungkinan.

Belajarlah selama masih mempunyai kesempatan. Bangunlah kemampuan yang nyata. Jangan malu mengerjakan pekerjaan yang sederhana, tetapi jangan pula berhenti berusaha memperbaiki kemampuan dan keadaan. Jangan mengukur seluruh nilai diri melalui keberhasilan orang lain.
Pada zaman ketika kehidupan semakin banyak ditampilkan melalui media sosial, orang mudah membandingkan seluruh kesulitannya dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain.
Kita melihat keberhasilan mereka, tetapi tidak selalu mengetahui seluruh perjalanan yang mendahuluinya. Akibatnya, ada anak muda yang merasa terlambat pada usia ketika sebenarnya ia baru mulai mengenal kehidupan. Saya ingin mereka memahami bahwa tidak ada satu jadwal keberhasilan yang berlaku bagi semua manusia. Ada yang memperoleh kesempatan sejak muda. Ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang menemukan jalan setelah berkali-kali mengubah arah.

Saya juga ingin mengingatkan bahwa kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha. Harapan harus disertai pekerjaan. Keberanian harus ditopang pengetahuan. Dan cita-cita besar membutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan hal-hal kecil secara konsisten. Jangan hanya ingin terlihat berhasil. Bangunlah kemampuan yang benar-benar membuat kalian mampu menyelesaikan persoalan. Jangan terlalu sibuk mencari pengakuan. Carilah pekerjaan yang memiliki makna dan jalankan dengan sungguh-sungguh. Jika suatu hari memperoleh kesempatan memimpin orang lain, ingatlah bahwa kepemimpinan bukanlah hak untuk selalu didengarkan. Kepemimpinan justru menambah kewajiban untuk mendengarkan. Jika memperoleh kekayaan, ingatlah bahwa tidak semua manusia memiliki kesempatan ekonomi yang sama. Jika memperoleh pendidikan tinggi, jangan meremehkan orang yang belum mempunyai kesempatan menempuh pendidikan serupa.
Dan jika suatu hari mengalami kekalahan, jangan terburu-buru menganggap bahwa seluruh perjalanan telah berakhir. Ada kalanya kehidupan sedang memaksa kita mempelajari sesuatu yang tidak pernah kita pilih sendiri.

Sekarang, ketika mengingat perjalanan dari Wonosobo menuju Jakarta, dari seorang karyawan muda menuju perguruan tinggi, dari gerakan mahasiswa menuju kehidupan politik, dari berbagai kekalahan hingga memperoleh tanggung jawab di lembaga perwakilan rakyat, saya tidak lagi melihatnya sebagai rangkaian peristiwa yang seluruhnya harus dibenarkan. Ada bagian yang membanggakan. Ada yang menyenangkan untuk dikenang. Tetapi ada pula pengalaman yang membuat saya lebih memahami keterbatasan diri. Saya bersyukur atas semuanya tanpa merasa bahwa setiap keputusan masa lalu telah sempurna. Saya juga tidak ingin menganggap perjalanan ini sebagai bukti bahwa siapa pun yang bekerja keras pasti akan mencapai kedudukan tertentu.
Kehidupan tidak memberikan jaminan semacam itu. Ada banyak orang yang jauh lebih tekun, lebih cerdas, dan lebih baik daripada saya, tetapi tidak memperoleh kesempatan yang sama.
Kesadaran itulah yang justru membuat saya merasa harus berhati-hati dalam memaknai keberhasilan.

Jika seluruh pencapaian dianggap semata-mata hasil kehebatan pribadi, manusia mudah melupakan mereka yang belum beruntung. Sebaliknya, jika kita menyadari betapa banyak keadaan dan kebaikan orang lain yang turut membentuk perjalanan, akan lebih mudah bagi kita untuk memandang keberhasilan sebagai sesuatu yang harus dibagikan manfaatnya.

Saya teringat kembali kepada manajer dan pemilik perusahaan yang pernah memberi saya kesempatan belajar pada 1994. Mereka barangkali tidak pernah membayangkan sejauh mana keputusan tersebut akan memengaruhi perjalanan hidup seorang karyawan muda. Tetapi bagi saya, kesempatan itu menjadi salah satu titik balik terpenting. Dari pengalaman tersebut saya memahami bahwa seseorang dapat meninggalkan pengaruh besar dalam kehidupan orang lain melalui keputusan yang tampaknya sederhana. Barangkali inilah salah satu alasan mengapa saya semakin memandang politik sebagai tanggung jawab membuka dan memperluas kesempatan.
Saya tidak ingin ada anak muda yang kehilangan masa depan hanya karena keadaan ekonomi keluarga. Saya tidak ingin kemampuan masyarakat terhalang oleh sistem birokrasi yang tidak bekerja. Saya ingin tanah, sumber daya, pendidikan, teknologi, serta kebijakan negara semakin mampu mendukung kehidupan rakyat yang lebih produktif dan bermartabat. Saya memahami bahwa cita-cita semacam itu tidak akan selesai hanya melalui sebuah pidato, tulisan, atau satu masa jabatan. Tetapi setiap generasi mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki sebagian keadaan yang diwarisinya.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan bangsa. Namun setidaknya kita tidak boleh dengan sengaja mewariskan masalah yang sebenarnya bisa kita perbaiki hari ini.
Saya belajar dari banyak orang, termasuk Prabowo Subianto, bahwa perjalanan panjang memerlukan keteguhan. Tetapi saya juga belajar dari pengalaman sendiri bahwa keteguhan harus terus disertai kerendahan hati, pengetahuan, dan kemampuan memperbaiki diri. Tidak semua yang kita yakini hari ini pasti benar untuk selamanya. Ada keadaan yang berubah, pengetahuan baru yang ditemukan, dan pengalaman yang dapat mengoreksi cara kita memandang dunia.
Karena itu, saya ingin terus belajar tanpa merasa telah mengetahui segalanya. Saya ingin tetap memiliki keberanian bertindak tanpa kehilangan kehati-hatian. Saya ingin menjaga keyakinan terhadap tujuan tanpa menganggap bahwa setiap cara yang ditempuh pasti benar. Dan yang tidak kalah penting, saya ingin tetap memiliki kemampuan bersyukur tanpa menjadikan rasa syukur sebagai alasan untuk berhenti memperbaiki keadaan.

Ada sesuatu yang menarik dari pegunungan di tanah kelahiran saya. Dari kejauhan, puncak tampak seperti titik akhir perjalanan. Tetapi ketika seseorang mulai mendaki, ia segera menemukan bahwa jalan tidak pernah sesederhana yang terlihat dari bawah. Ada tanjakan yang melelahkan, tikungan yang menghalangi pandangan, dan persimpangan yang menuntut keputusan. Kadang cuaca berubah sebelum kita mencapai tempat yang dituju. Ada pula saat ketika seseorang harus berhenti, bukan karena kehilangan keinginan mencapai puncak, melainkan karena menyadari bahwa perjalanan masih panjang dan tenaga perlu dijaga. Barangkali kehidupan memang menyerupai perjalanan itu. Ketika muda, kita memandang puncak dengan penuh harapan. Setelah mulai mendaki, kita memahami bahwa keindahan pemandangan tidak pernah menghapus kenyataan tentang jalan yang harus dilalui. Dan ketika telah berjalan cukup jauh, kita mungkin mulai menyadari bahwa pengalaman mendaki itu sendiri perlahan mengubah diri kita.

Saya tidak tahu berapa banyak lagi tanjakan yang harus dilewati. Saya juga tidak tahu apakah seluruh cita-cita yang masih tersimpan akan menemukan jalannya. Tetapi saya tidak lagi merasa harus memperoleh jawaban atas semuanya sekarang. Saya hanya berharap tetap diberi kesehatan, kejernihan berpikir, kesempatan belajar, kekuatan menjaga keluarga, serta kemampuan menjalankan tanggung jawab publik dengan sebaik-baiknya. Saya ingin terus berjalan tanpa merasa bahwa kedudukan hari ini merupakan puncak kehidupan. Sebab setiap kedudukan mempunyai waktunya sendiri. Suatu hari jabatan akan berakhir. Pengaruh akan berkurang. Orang-orang baru akan datang membawa gagasan, kemampuan, dan tanggung jawab yang berbeda.
Itu merupakan bagian alamiah dari pergiliran kehidupan. Yang saya harapkan tetap tinggal bukanlah ingatan tentang jabatan yang pernah saya duduki. Saya lebih berharap ada seseorang yang memperoleh kesempatan belajar karena jalan yang pernah ikut saya buka. Ada masyarakat yang kehidupannya menjadi sedikit lebih baik karena kebijakan yang pernah ikut saya perjuangkan. Ada anak muda yang tidak kehilangan harapan ketika membaca pengalaman seseorang yang berkali-kali harus memulai kembali. Dan jika tidak semua harapan itu terwujud, semoga setidaknya saya tidak berhenti mengusahakannya.

Saya teringat lagi kepada seorang remaja yang pada Mei 1994 mengungkapkan cita-citanya menjadi guru besar dalam sebuah majalah sekolah. Ia belum mengetahui bahwa beberapa minggu kemudian akan meninggalkan Wonosobo untuk bekerja di Jakarta. Ia belum mengetahui bahwa pendidikan tingginya akan membutuhkan perjalanan yang panjang. Ia belum mengetahui bahwa dunia politik akan mempertemukannya dengan begitu banyak orang, harapan, pertentangan, dan kekalahan. Ia pun belum mengetahui bahwa pada suatu hari akan memperoleh kesempatan mengambil bagian dalam pekerjaan besar mengurus negara. Jika saya dapat berbicara kepada remaja itu sekarang, saya tidak ingin menjanjikan bahwa seluruh cita-citanya akan tercapai.
Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi kita masih dapat memilih bagaimana memperlakukan kesempatan yang tersedia.
Jangan kehilangan keinginan belajar. Jangan merasa rendah hanya karena berasal dari keluarga sederhana. Jangan menganggap pekerjaan kecil tidak mempunyai nilai. Jangan membiarkan kekalahan merusak penghormatan kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dan jika kelak memperoleh kesempatan yang lebih luas, jangan pernah melupakan bagaimana rasanya berdiri di hadapan pintu yang belum dapat dibuka. Sebab boleh jadi, tugas terpenting yang menunggu di masa depan bukanlah memasuki pintu itu seorang diri. Melainkan membantu membukanya agar lebih banyak orang dapat melangkah.

Pada akhirnya, perjalanan hidup yang terjal dan mendaki bukan hanya mengajarkan cara mencapai tempat yang lebih tinggi. Ia mengajarkan mengapa manusia perlu tetap rendah hati ketika sampai di sana. Saya belum merasa selesai dengan perjalanan ini.
Masih ada pekerjaan, pelajaran, dan tanggung jawab yang menunggu. Tetapi saya semakin memahami satu hal: ketika kelak perjalanan harus berakhir, saya tidak ingin terlalu disibukkan oleh pertanyaan seberapa tinggi puncak yang pernah saya capai. Saya lebih ingin bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Ketika saya diberi kesempatan untuk berjalan lebih jauh, adakah jalan yang menjadi sedikit lebih mudah bagi orang-orang yang datang sesudah saya?
Barangkali jawaban atas pertanyaan itulah yang suatu hari akan menentukan makna seluruh perjalanan. Dan semoga, ketika tiba waktunya, saya dapat menjawabnya bukan dengan cerita tentang keberhasilan pribadi, melainkan melalui kebaikan yang benar-benar pernah dirasakan orang lain.

Related Posts